JAKARTA - PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) melalui Unit Pelaksana Proyek (UPP) Nusra 1 kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelaku usaha kecil menengah di wilayah Nusa Tenggara Barat. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PLN UIP Nusra menyalurkan bantuan berupa mesin cetak batako dan material limbah fly ash bottom ash (FABA) dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jeranjang kepada pelaku usaha Batako Gunung Sari di Kabupaten Lombok Barat.
Bantuan ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi proses produksi serta menurunkan biaya operasional yang selama ini menjadi kendala utama bagi para pelaku UMKM. Selain itu, program ini juga merupakan bentuk tanggung jawab PLN terhadap pengelolaan lingkungan dengan memanfaatkan limbah FABA menjadi bahan bangunan yang bernilai guna tinggi serta ramah lingkungan.
Menurut pihak PLN, pemanfaatan FABA tidak hanya mengurangi potensi pencemaran lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar. Inisiatif ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana perusahaan energi nasional turut berperan dalam mendorong ekonomi sirkular dan keberlanjutan lingkungan di daerah.
Manfaat Nyata Bantuan Bagi Pelaku UMKM Batako Gunung Sari
Pemilik UMKM Batako Gunung Sari, Khairul, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas bantuan yang diberikan oleh PLN UIP Nusra. Ia menjelaskan bahwa dengan adanya mesin cetak baru dan pasokan material FABA dari PLTU Jeranjang, proses produksi batako menjadi lebih cepat dan efisien dibandingkan sebelumnya.
“Dengan adanya bantuan dari PLN ini, kami bisa memproduksi hingga seribu batako hanya dalam waktu setengah hari. Dulu untuk mencapai angka itu membutuhkan waktu dua sampai tiga hari,” ujar Khairul. Ia juga menambahkan bahwa penghematan biaya produksi menjadi salah satu dampak paling besar yang dirasakan setelah menerima bantuan tersebut.
Selain efisiensi waktu, Khairul menyebut bahwa kualitas batako yang menggunakan bahan FABA tidak kalah dari batako konvensional. Bahkan, menurutnya, batako berbahan FABA memiliki keunggulan dalam hal daya tahan terhadap suhu tinggi. “Batako FABA justru semakin kuat saat terkena api, ini membuktikan bahwa materialnya sangat baik,” tambahnya.
Peningkatan Produktivitas dan Kesejahteraan Pekerja Lokal
Tak hanya berdampak pada sisi produksi, bantuan dari PLN UIP Nusra juga memberikan manfaat langsung bagi tenaga kerja lokal yang terlibat dalam proses pembuatan batako. Salah satu pekerja, Lalu Ersan, mengaku kini proses produksi menjadi lebih ringan dan cepat berkat mesin baru yang diterima dari PLN.
“Kalau dulu kami hanya bisa memproduksi sekitar 200 sampai 300 batako per hari, sekarang bisa mencapai 500 hingga 600 batako,” ungkap Ersan. Ia juga menilai bahwa pengolahan FABA menjadi batako tidak jauh berbeda dengan bahan biasa, namun hasilnya jauh lebih maksimal dan kuat.
Peningkatan produksi tersebut tentu berdampak langsung pada peningkatan pendapatan bagi para pekerja. Dengan produktivitas yang meningkat, pesanan dari pelanggan pun semakin banyak, sehingga roda ekonomi UMKM Batako Gunung Sari terus berputar positif. Dukungan PLN UIP Nusra ini diharapkan menjadi inspirasi bagi sektor industri lainnya untuk turut berkontribusi terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat di tingkat lokal.
FABA Sebagai Solusi Ramah Lingkungan dan Bernilai Ekonomi
Pemanfaatan FABA menjadi bahan bangunan seperti batako merupakan langkah inovatif yang sejalan dengan misi PLN untuk menerapkan praktik pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Limbah hasil pembakaran batu bara ini telah diklasifikasikan sebagai non-B3 atau non bahan berbahaya dan beracun, sehingga aman digunakan untuk berbagai kebutuhan konstruksi.
Material FABA memiliki karakteristik yang kuat, tahan lama, serta ramah lingkungan. Selain itu, penggunaannya mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bangunan konvensional yang selama ini menimbulkan dampak eksploitasi alam. Melalui program ini, PLN UIP Nusra berupaya mendorong masyarakat untuk lebih sadar terhadap pentingnya pemanfaatan limbah secara produktif.
Upaya ini juga menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mendukung target net zero emission dan penguatan ekonomi sirkular di sektor energi. Dengan terus mengembangkan inovasi seperti FABA, PLN menunjukkan bahwa transformasi energi tidak hanya berkaitan dengan kelistrikan, tetapi juga dengan pemberdayaan sosial dan lingkungan yang berkesinambungan.
Komitmen PLN UIP Nusra Dalam Mendukung Pemberdayaan Ekonomi Daerah
General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra, Rizki Aftarianto, menyampaikan bahwa dukungan terhadap UMKM menjadi fokus penting dalam program TJSL perusahaan. Menurutnya, penguatan kapasitas pelaku usaha lokal tidak hanya membantu meningkatkan ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari pembangunan berkelanjutan di wilayah Nusa Tenggara.
“Program pemanfaatan FABA merupakan bentuk nyata komitmen PLN dalam mengubah limbah menjadi produk bernilai tambah. Selain membantu UMKM untuk berkembang, program ini juga memperlihatkan bagaimana PLN mengambil peran aktif dalam menjaga lingkungan,” ujar Rizki.
Ia menambahkan, PLN UIP Nusra akan terus memperluas kerja sama dengan berbagai pihak untuk mendorong implementasi inovasi serupa di daerah lain. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi berbasis masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan warga di sekitar proyek kelistrikan PLN.
Dukungan nyata terhadap UMKM seperti Batako Gunung Sari menjadi bukti bahwa kolaborasi antara sektor energi dan ekonomi lokal dapat berjalan beriringan. Melalui sinergi yang berkelanjutan, PLN UIP Nusra terus berkomitmen menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, lingkungan, dan pembangunan daerah.