Efek Basis Rendah Bikin Harga Bensin Tetap Inflasi

Senin, 03 Agustus 2026 | 22:43:01 WIB
BBM Nonsubsidi Turun, Bensin Masih Sumbang Inflasi [FOTO: NET].

JAKARTA — Harga bensin masih menjadi salah satu pemicu inflasi pada kelompok pengeluaran transportasi selama Juli 2026. Efek basis rendah membuat harga bensin tetap mencatat inflasi meskipun secara umum Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami deflasi bulanan atau month-to-month (MtM) pada bulan lalu.

Adapun IHK pada Juli 2026 mengalami deflasi sebesar 0,14% (MtM), atau turun dari 111,89 pada Juni 2026 menjadi 111,73 pada Juli 2026.

Meski demikian, masih terdapat sejumlah kelompok pengeluaran yang mencatat inflasi pada Juli 2026. Salah satu yang paling dominan ialah kelompok transportasi dengan inflasi sebesar 0,52% dan memberikan andil 0,06%. Komoditas yang paling besar mendorong kenaikan harga pada kelompok transportasi adalah bensin.

"Adapun komoditas dominan mendorong inflasi pada kelompok transportasi, terutama bensin dengan andil inflasi 0,08%, sepeda motor, pelumas, atau oli mesin dengan andil inflasi masing-masing 0,01%," terang Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono pada konferensi pers, Senin (3/8/2026).

Ateng menjelaskan bensin masih mengalami inflasi meskipun pada 1 Juli 2026 harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex mengalami penurunan. Sementara itu, harga Pertamax relatif tetap.

Menurut Ateng, inflasi secara bulanan masih terjadi karena harga komoditas tersebut memiliki basis yang rendah pada periode 1 hingga 9 Juni 2026 sehingga memunculkan efek basis rendah.

"Pada tanggal 1-9 Juni 2026 harga Pertamax masih berada pada level Rp12.000-an sehingga jika Juli 2026 dibandingkan dengan tadi Juni 2026 harganya lebih tinggi atau mengalami inflasi secara rata-rata bulanannya itu yang menyebabkan bensin masih mengalami inflasi," terangnya.

Di sisi lain, kelompok pengeluaran lain yang juga mencatat inflasi cukup besar adalah kelompok pendidikan sebesar 0,55% (MtM) dengan andil 0,03%. Komoditas yang dominan mendorong kenaikan berasal dari biaya sekolah dasar, taman kanak-kanak, dan bimbingan belajar.

Sementara itu, kelompok pengeluaran yang menjadi penyumbang deflasi ialah makanan, minuman, dan tembakau dengan deflasi sebesar 0,89% (MtM) serta andil 0,26%. Komoditas yang paling besar mendorong deflasi pada kelompok ini yakni bawang merah dengan andil deflasi 0,11%, cabai merah dan cabai rawit masing-masing 0,06%, telur ayam ras dan tomat masing-masing 0,03%, serta jeruk sebesar 0,02%.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami deflasi sebesar 0,89% (MtM) dengan andil 0,06%.

"Deflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya terutama didorong oleh deflasi emas perhiasan sebesar 3,58% dan memberikan andil deflasi 0,08%," terang Ateng.

Terkini