JAKARTA - Industri komponen otomotif menghadapi dinamika yang semakin kompleks dalam beberapa waktu terakhir.
Tekanan datang dari berbagai arah, baik global maupun domestik. Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha untuk menyesuaikan strategi agar tetap bertahan.
Selamat Sempurna (SMSM) Ungkap Kinerja Tertekan Truk Impor China sebagai gambaran situasi yang dihadapi perseroan. Emiten komponen otomotif PT Selamat Sempurna Tbk membeberkan sejumlah tekanan sepanjang tahun lalu. Salah satu faktor utama berasal dari masuknya truk impor asal China.
Tantangan tersebut terjadi di tengah perlambatan pasar otomotif nasional. Permintaan kendaraan baru mengalami penurunan. Situasi ini berdampak langsung terhadap kinerja produsen komponen.
Tekanan Global dan Domestik Perseroan
Wakil Direktur Utama SMSM, Ang Andri Pribadi, menjelaskan bahwa hingga periode sembilan bulan 2025 perseroan menghadapi berbagai tantangan. Ketidakpastian geopolitik menjadi salah satu faktor eksternal yang memengaruhi stabilitas perdagangan. Selain itu, kebijakan tarif internasional turut menekan iklim usaha.
Dari sisi domestik, pelemahan pasar otomotif memperberat tekanan permintaan. Kondisi ini menyebabkan penjualan kendaraan baru tidak tumbuh optimal. Dampaknya dirasakan oleh industri pendukung, termasuk produsen komponen.
Situasi tersebut menuntut perusahaan untuk bersikap adaptif. Perubahan pasar terjadi dalam waktu relatif singkat. Perseroan harus menyesuaikan langkah operasionalnya.
Dampak Impor Truk China terhadap Kinerja
Selain faktor pasar, derasnya impor truk utuh turut memengaruhi kinerja SMSM. Truk impor tersebut mayoritas berasal dari China. Kehadiran produk impor meningkatkan tingkat persaingan di pasar domestik.
"Penjualan domestik menghadapi tekanan, terutama akibat meningkatnya persaingan dari impor truk CBU, yang berdampak pada kinerja segmen karoseri pada entitas anak perseroan, PT Hydraxle Perkasa," ujar Andri. Pernyataan tersebut menegaskan dampak langsung terhadap anak usaha. Segmen karoseri menjadi salah satu yang paling terdampak.
Masuknya truk CBU menggeser permintaan produk lokal. Hal ini menekan volume produksi dalam negeri. Perseroan harus mengantisipasi perubahan struktur pasar tersebut.
Strategi Perseroan Menjaga Kinerja
Dalam menghadapi kondisi tersebut, SMSM tetap berfokus pada penguatan fundamental usaha. Strategi utama dilakukan melalui diversifikasi pasar. Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada satu segmen tertentu.
Selain diversifikasi, perseroan menerapkan disiplin efisiensi operasional. Pengendalian biaya menjadi fokus untuk menjaga margin usaha. Kebijakan ini diambil agar kinerja tetap stabil.
Dia mengatakan, SMSM juga menjaga fleksibilitas produksi. Fleksibilitas tersebut diperlukan untuk menyesuaikan kapasitas dengan permintaan pasar. Dengan demikian, tingkat profitabilitas dapat dipertahankan.
Capaian Keuangan dan Peran Ekspor
Dari sisi kinerja keuangan, SMSM mencatat penjualan bersih konsolidasi sebesar Rp3,92 triliun sepanjang sembilan bulan 2025. Angka tersebut meningkat 2,65 persen dibandingkan Rp3,81 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini mencerminkan ketahanan kinerja di tengah tekanan.
Sementara itu, laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp820 miliar. Realisasi ini tumbuh 13,50 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan laba menunjukkan efektivitas strategi efisiensi.
"Dalam kondisi tersebut, penjualan ekspor memberikan kontribusi yang signifikan, sekitar 65% terhadap total pendapatan perseroan, sehingga turut menopang kinerja secara keseluruhan," pungkasnya. Ekspor menjadi penopang utama pendapatan. Peran pasar luar negeri semakin krusial.
Kondisi Pasar Otomotif dan Lonjakan Impor
Di sisi lain, pasar otomotif domestik masih menunjukkan pelemahan. Sepanjang Januari hingga Desember 2025, penjualan mobil secara wholesales tercatat sebesar 803.687 unit. Angka tersebut turun 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penjualan ritel dari dealer ke konsumen juga mengalami koreksi. Sepanjang 2025, penjualan ritel tercatat sebanyak 833.692 unit. Jumlah tersebut turun 6,3 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Saat penjualan domestik melemah, impor truk China justru meningkat signifikan. Total impor truk utuh asal China tercatat sebanyak 15.070 unit sepanjang 2025. Nilai impor tersebut mencapai US$688,6 juta atau sekitar Rp11,6 triliun.
Kondisi ini dinilai tidak lazim karena impor tidak dilakukan oleh pemain dalam negeri. Jumlah impor tersebut meningkat 10,24 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan ini memperketat persaingan di pasar truk nasional.
Tekanan impor menjadi tantangan serius bagi industri komponen lokal. Perseroan perlu menjaga daya saing di tengah perubahan pasar. Strategi adaptif menjadi kunci menghadapi dinamika industri.