Harga Minyak Dunia Turun Tipis Seiring Perkembangan Dinamika Ekonomi Global

Rabu, 11 Februari 2026 | 09:27:25 WIB
Harga Minyak Dunia Turun Tipis Seiring Perkembangan Dinamika Ekonomi Global

JAKARTA - Pergerakan harga minyak global kembali menunjukkan pelemahan terbatas di tengah ketidakpastian pasar energi. 

Pelaku pasar memilih bersikap hati-hati sambil mencermati perkembangan geopolitik dan ekonomi global. Fokus utama tertuju pada hubungan diplomatik Amerika Serikat dan Iran serta dinamika pasokan minyak dunia.

Harga Minyak Turun Tipis Hari Ini 11 Februari 2026 menjadi perhatian pelaku pasar energi internasional. Harga minyak sedikit turun karena pasar menunggu arahan lebih lanjut dari sejumlah sentimen global. Selain isu diplomatik, data ekonomi dan persediaan minyak AS juga menjadi faktor penentu.

Harga minyak Brent tercatat turun 24 sen atau 0,35 persen menjadi USD 68,80 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate AS turun 40 sen atau 0,62 persen menjadi USD 63,96 per barel. Pergerakan ini mencerminkan sikap pasar yang masih menahan diri.

Menanti Kepastian Arah Diplomasi

Pelaku pasar dinilai masih ragu mengambil posisi agresif di pasar minyak. Ketidakjelasan arah diplomasi membuat investor menunggu sinyal yang lebih tegas. Kondisi ini menyebabkan harga bergerak terbatas.

“(Para pedagang) ragu untuk menekan ke arah mana pun sampai ada sinyal yang lebih jelas dari diplomasi, data persediaan berikutnya, atau konfirmasi apa pun bahwa arus pasokan secara signifikan terpengaruh dan bukan hanya terancam,” kata Analis di perusahaan konsultan energi Gelber & Associates dalam sebuah catatan.

Pernyataan tersebut menggambarkan sikap pasar yang cenderung berhati-hati. Risiko gangguan pasokan belum terlihat secara nyata. Oleh karena itu, pelaku pasar memilih menunggu perkembangan lanjutan.

Ketegangan AS dan Iran Jadi Sorotan

Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi pusat perhatian. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan pembicaraan nuklir dengan AS memungkinkan Teheran mengukur keseriusan Washington. Pernyataan tersebut memberi sinyal terbukanya jalur diplomatik.

Para diplomat AS dan Iran diketahui mengadakan pembicaraan melalui mediator di Oman. Upaya ini dilakukan untuk menghidupkan kembali diplomasi yang sempat merenggang. Situasi ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump menempatkan armada angkatan laut di wilayah tersebut.

Langkah militer tersebut meningkatkan kekhawatiran akan potensi konflik baru. Pasar energi mencermati perkembangan ini dengan seksama. Setiap eskalasi dinilai berpotensi memengaruhi pasokan minyak global.

“Pasar masih fokus pada ketegangan antara Iran dan AS. Namun, kecuali ada tanda-tanda konkret gangguan pasokan, harga kemungkinan akan mulai turun," kata Analis Minyak di Pialang PVM, Tamas Varga.

Peran Strategis Selat Hormuz

Sekitar seperlima konsumsi minyak global melewati Selat Hormuz. Jalur ini menjadi salah satu rute pengiriman energi terpenting di dunia. Setiap gangguan di kawasan tersebut berisiko besar terhadap pasokan global.

Iran dan negara-negara anggota OPEC lainnya mengekspor sebagian besar minyak mentah melalui selat ini. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak menjadi negara utama yang bergantung pada jalur tersebut. Pasokan ke kawasan Asia sangat bergantung pada kelancaran distribusi ini.

Ketegangan geopolitik di wilayah Hormuz selalu menjadi perhatian pasar. Risiko penutupan atau gangguan jalur pelayaran dapat memicu lonjakan harga. Namun, hingga kini pasar belum melihat gangguan nyata.

Produksi Global dan Faktor Pasokan

Iran tercatat sebagai produsen minyak mentah terbesar ketiga di OPEC. Posisi tersebut berada di bawah Arab Saudi dan Irak. Peran Iran dalam pasokan global menjadikan setiap kebijakan terkait negara ini berdampak luas.

Rusia juga menjadi perhatian dalam dinamika pasokan minyak dunia. Negara tersebut merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Arab Saudi. Upaya menekan pendapatan Rusia terus dilakukan melalui berbagai kebijakan.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyatakan akan mengusulkan daftar konsesi yang harus dituntut Eropa dari Rusia. Langkah ini merupakan bagian dari penyelesaian untuk mengakhiri perang di Ukraina. Dampaknya terhadap pasokan energi global terus dicermati.

India juga menyesuaikan strategi pembelian minyaknya. Indian Oil Corp membeli enam juta barel minyak mentah dari Afrika Barat dan Timur Tengah. Langkah ini dilakukan karena India menghindari minyak Rusia demi kepentingan diplomasi perdagangan.

Di sisi lain, Venezuela diperkirakan akan meningkatkan produksi minyaknya. Perluasan lisensi AS diprediksi memulihkan produksi negara tersebut pada pertengahan 2026. Produksi diperkirakan kembali ke level sebelum pembatasan laut diberlakukan.

Data Ekonomi AS dan Arah Pasar

Dari sisi ekonomi, data Amerika Serikat turut memengaruhi pergerakan harga minyak. Penjualan ritel AS tercatat tidak berubah karena rumah tangga mengurangi pengeluaran. Kondisi ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Investor juga mencermati rilis data ekonomi penting lainnya. Laporan penggajian non-pertanian dan data inflasi menjadi perhatian utama. Data ini digunakan sebagai petunjuk arah kebijakan suku bunga.

Bank sentral AS mengatur suku bunga untuk mengendalikan inflasi. Presiden AS Donald Trump mendorong penurunan suku bunga demi mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun, kebijakan tersebut berisiko memicu tekanan inflasi baru.

Di pasar energi, perhatian tertuju pada data persediaan minyak AS. Pedagang menunggu laporan mingguan dari lembaga terkait. Data ini menjadi indikator keseimbangan pasokan dan permintaan.

Para analis memperkirakan stok minyak mentah AS naik 0,1 juta barel pekan lalu. Angka ini lebih rendah dibandingkan kenaikan tahun sebelumnya. Rata-rata lima tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang lebih tinggi.

Kondisi tersebut membuat pasar tetap berhati-hati. Harga minyak bergerak tipis sambil menunggu kepastian arah global. Dinamika geopolitik dan ekonomi masih menjadi penentu utama pergerakan selanjutnya.

Terkini