JAKARTA - Tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat kelas menengah menjadi faktor penting dalam dinamika industri otomotif nasional.
Di tengah melemahnya daya beli, kebijakan insentif kendaraan dinilai masih berperan menjaga keseimbangan pasar. Insentif Kendaraan Dinilai Masih Jadi Penyangga Industri Otomotif dalam menghadapi perlambatan konsumsi.
Pelemahan daya beli kelas menengah disebut berdampak langsung terhadap penjualan mobil. Segmen menengah ke bawah menjadi yang paling terdampak dalam kondisi tersebut. Penurunan ini terlihat jelas pada performa penjualan kendaraan harian masyarakat.
Pengamat Ekonomi Senior Perbanas Josua Pardede menilai tekanan ekonomi tersebut terjadi cukup signifikan. Kondisi ini berpengaruh langsung terhadap minat beli kendaraan. Terutama pada segmen mobil dengan harga terjangkau.
Tekanan Daya Beli Segmen Menengah
Josua menyoroti penurunan jumlah kelas menengah yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Di saat yang sama, kelompok masyarakat rentan justru mengalami peningkatan. Perubahan struktur ini memengaruhi pola konsumsi kendaraan.
“Data menunjukkan jumlah kelas menengah menurun tajam, sementara kelompok masyarakat rentan meningkat," ujar Josua. Menurutnya, kondisi tersebut memberi tekanan besar pada penjualan mobil. Terutama untuk segmen menengah ke bawah.
LCGC menjadi salah satu segmen yang mengalami koreksi cukup dalam. Penurunan ini mencerminkan menurunnya kemampuan beli konsumen utama segmen tersebut. Dampak pelemahan ekonomi pun semakin terasa di pasar otomotif.
Peran Kendaraan Listrik Menahan Penurunan
Di tengah tekanan tersebut, kendaraan listrik justru menunjukkan kinerja berbeda. EV dinilai mampu menjadi penopang pasar mobil penumpang. Terutama pada kuartal IV 2025.
Josua mencatat adanya lonjakan penjualan EV yang signifikan pada Desember 2025. Lonjakan ini tidak lepas dari kekhawatiran konsumen terhadap kelanjutan insentif. Faktor psikologis turut mendorong percepatan pembelian.
“Terjadi lonjakan sangat signifikan dari November ke Desember. Konsumen cenderung mempercepat pembelian karena takut insentif EV tidak berlanjut,” ujarnya. Fenomena ini menunjukkan besarnya pengaruh kebijakan terhadap keputusan beli. Insentif menjadi pemicu utama lonjakan tersebut.
Karakter Konsumen Kendaraan Listrik
Meski mencatatkan pertumbuhan, pasar EV dinilai belum sepenuhnya inklusif. Konsumen EV saat ini masih didominasi kelas menengah atas. Kelompok ini umumnya bukan pembeli mobil pertama.
Menurut Josua, konsumen kelas atas relatif lebih tahan terhadap tekanan ekonomi. Mereka memiliki daya beli yang lebih stabil dibanding segmen lain. Hal ini membuat EV tetap diminati meski kondisi ekonomi melambat.
Namun, kondisi ini juga menjadi catatan penting bagi industri. Ketergantungan pada segmen atas dinilai belum cukup untuk menopang pasar secara menyeluruh. Diperlukan strategi agar EV dapat menjangkau segmen lebih luas.
Risiko Jika Insentif Dihentikan
Josua mengingatkan adanya risiko jika insentif dihentikan tanpa skema pengganti. Penghentian tersebut berpotensi menaikkan harga kendaraan listrik. Kenaikan harga bisa langsung menekan permintaan pasar.
“Jika insentif dihentikan tanpa pengganti, akan ada kenaikan harga dan penurunan penjualan EV. Ini berpotensi memperberat tren penurunan penjualan tahunan,” jelasnya. Dampak ini tidak hanya dirasakan produsen EV. Industri otomotif secara keseluruhan juga akan terpengaruh.
Penurunan penjualan EV berisiko menghilangkan salah satu penopang pasar. Dalam kondisi daya beli lemah, kehilangan insentif dapat memperparah tekanan. Oleh karena itu, kebijakan dinilai perlu dirancang secara hati-hati.
Usulan Skema Insentif Bersyarat
Sebagai solusi, Josua mengusulkan penerapan insentif bersyarat. Insentif dapat diberikan kepada produsen yang memenuhi ketentuan tertentu. Salah satunya adalah tingkat komponen dalam negeri.
Selain itu, insentif juga dapat difokuskan untuk pembelian mobil pertama. Skema ini dinilai lebih tepat sasaran. Pemerintah tetap dapat menjaga ruang fiskal dengan pendekatan selektif.
“Insentif EV tetap penting, dengan pengaturan yang lebih selektif. Insentif bersyarat bisa menjadi solusi win-win bagi industri dan pemerintah,” pungkasnya. Pendekatan ini dinilai mampu menjaga industri tetap bergerak. Sekaligus memastikan kebijakan berjalan lebih efisien.