Komitmen PIS dan doctorSHARE dalam Menjangkau Layanan Kesehatan Hingga Pelosok Lewat Rumah Sakit Kapal

Kamis, 10 Juli 2025 | 10:44:03 WIB

Waigeo, Papua Barat Daya – Meninggalkan kenyamanan kota besar, Josepha (28) memilih jalan berbeda dalam mengabdikan profesinya sebagai perawat. Ia menjadi relawan di daerah terpencil dan saat ini bertugas di Rumah Sakit Kapal Nusa Waluya II, yang tengah beroperasi di wilayah Waigeo Utara, Papua Barat Daya.

Josepha tak pernah membayangkan akan bekerja di ruang operasi yang terus berguncang karena ombak laut. “Selama pelayanan sekitar tiga minggu, kapal terus dihantam ombak,” kisahnya. Bagi awak kapal, goyangan itu adalah hal biasa, namun bagi tenaga medis seperti Josepha, hal ini menjadi tantangan tersendiri.

"Kami tetap harus menangani beberapa pasien operasi meski ombak tinggi. Ini menjadi kesulitan tersendiri bekerja di atas kapal," tambahnya.

Selama dua tahun terakhir, Josepha telah menjadi bagian dari tim relawan RS Kapal Nusa Waluya II. Ia memilih jalur ini karena panggilan hati untuk membantu masyarakat yang kesulitan mengakses layanan kesehatan.

Salah satu pengalaman paling membekas baginya adalah ketika merawat pasien lansia tanpa keluarga. "Pasien datang sendiri, berjuang sampai ke kapal. Ia mengalami gangguan pernapasan dan tidak memiliki siapa-siapa. Sebagai perawat, saya merasa benar-benar menjalani peran saya saat merawatnya sampai sembuh."

Kisah inspiratif lain datang dari Parlin (28), seorang apoteker asal Jember, Jawa Timur, yang pertama kali menginjakkan kaki di tanah Papua. Meskipun merasa kontribusinya tak sebesar dokter atau perawat, Parlin tetap memberikan pelayanan terbaik. Ia harus menjelaskan pengobatan secara perlahan karena banyak pasien tidak memahami bahasa atau prosedur medis.

“Kita harus bersabar dalam menjelaskan agar pasien bisa mengerti pengobatan yang mereka terima,” ujarnya.

Usaha Parlin tak sia-sia. Pasien kerap menunjukkan rasa terima kasih dengan memberi buah-buahan dan hasil bumi. “Hal seperti ini tidak saya temui di kota. Sangat menyentuh,” ucapnya.

Ungkapan terima kasih berupa hasil alam menjadi bentuk penghargaan para pasien yang dilayani secara cuma-cuma. Mereka bahkan kembali ke RS kapal hanya untuk mengantar buah sebagai bentuk apresiasi.

Semangat mengabdi juga menginspirasi Gavriel Gregorio Singgih (26), dokter muda asal Jakarta. Keinginannya menjadi relawan muncul sejak 2019, saat masih menjalani koas kedokteran. “Saya melihat RS kapal ini menjangkau masyarakat terpencil. Prinsip ‘to reach and be reachable’ mendorong saya untuk bergabung,” katanya.

Josepha, Parlin, dan Gavriel adalah tiga dari total 35 relawan medis yang terlibat dalam misi ini. Mereka terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, perawat, apoteker, hingga bidan. Di tengah ombak dan angin laut yang tak pernah berhenti, mereka belajar bahwa pengabdian sejati seringkali datang melalui jalan yang berat namun bermakna.

RS Kapal Nusa Waluya II menjalankan misinya di Waigeo Utara, Papua Barat Daya, selama 60 hari sejak 10 Juni 2025 hingga Agustus. Targetnya: melayani hingga 10.000 warga dari tujuh distrik secara gratis.

Rumah sakit terapung ini merupakan hasil kerja sama antara PT Pertamina International Shipping (PIS) dan doctorSHARE.

“Ini kali kedua kami bermitra dengan doctorSHARE untuk menghadirkan layanan kesehatan ke pelosok nusantara,” ujar Corporate Secretary PIS, Muhammad Baron (11/07). Ia menyatakan bahwa kerja sama ini dilandasi oleh keyakinan bahwa setiap individu berhak atas layanan kesehatan yang layak, di mana pun berada.

Baron menambahkan, program tanggung jawab sosial (CSR) ini, yang berada di bawah inisiatif "BerSEAnergi untuk Laut", mencerminkan komitmen PIS dalam menyebarkan energi kebaikan ke berbagai penjuru tanah air melalui jalur laut.

“Bagi kami, memajukan bangsa tidak hanya lewat layanan logistik atau armada kapal. Kami juga hadir langsung di tengah masyarakat, memberikan layanan yang nyata dan bermanfaat,” tutupnya.

Terkini