Kupang Barat, NTT – Perempuan di wilayah pesisir adalah sumber energi yang tak pernah surut. Mereka bukan hanya penjaga rumah tangga, tetapi juga penggerak ekonomi keluarga yang penuh ketangguhan. Seperti halnya di Desa Lifuleo, Kupang Barat, para ibu mampu mengubah hasil laut sederhana menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang memberi kehidupan baru bagi desa.
Pada 20 September 2025, Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang bersama PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) meluncurkan program Desa Eco-Bahari: Pemberdayaan Perempuan dan UMKM melalui Diversifikasi Produk Rumput Laut dan Ikan. Inisiatif ini hadir untuk memperkuat peran perempuan pesisir agar lebih mandiri dan kreatif dalam mengembangkan potensi lokal. Tidak hanya berfokus pada keterampilan mengolah bahan mentah, peserta juga mendapatkan pembekalan tentang manajemen usaha, strategi pemasaran digital, serta cara membangun jejaring bisnis yang berkelanjutan. Program ini menjadi bukti nyata sinergi antara dunia pendidikan dan BUMN dalam membuka jalan bagi ekonomi inklusif yang digerakkan oleh perempuan desa.
Pelatihan yang Membuka Wawasan Baru
Pagi itu, aula Desa Lifuleo dipenuhi semangat belajar. Hadir Plt. Camat Kupang Barat, Kepala Desa Lifuleo, perwakilan Politeknik KP Kupang termasuk Wakil Direktur I dan III, serta kelompok perempuan setempat. Program yang berlangsung dari Agustus hingga Desember 2025 ini mencakup kegiatan edukasi, pelatihan, penelitian, serta tahap pemantauan dan evaluasi hasil pelatihan.
Materi diberikan secara interaktif dan mudah dipahami. Peserta dilatih mengolah hasil laut dan rumput laut menjadi beragam produk bernilai jual seperti abon ikan tuna, bakso ikan, sambal ikan, nugget ikan, dan mie rumput laut. Mereka juga diperkenalkan pada penggunaan alat-alat modern seperti vacuum sealer, chopper, dan cetakan mie. Bagi sebagian besar peserta, ini merupakan pengalaman pertama menggunakan peralatan yang membuka peluang wirausaha baru di bidang pengolahan hasil laut.
Suara dari Perempuan Lifuleo
“Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi kami. Banyak alat yang sebelumnya belum pernah kami gunakan, seperti vacuum sealer dan alat cetak mie. Sekarang kami bisa mengolah hasil laut dengan cara yang lebih modern dan menarik,” tutur Ibu Ola, salah satu peserta pelatihan, dengan penuh antusias.
Program ini menjadi langkah konkret dalam menciptakan desa berdaya dan mandiri, di mana perempuan menjadi motor penggerak ekonomi lokal melalui kreativitas dan inovasi berbasis potensi pesisir.