Sekolah Rakyat PLN UIP Nusra Memberikan Dampak Nyata Bagi Anak Anak Pesisir Berkat Kepemimpinan GM Bapak Rizki Aftarianto Yang Peduli Literasi

Sekolah Rakyat PLN UIP Nusra Memberikan Dampak Nyata Bagi Anak Anak Pesisir Berkat Kepemimpinan GM Bapak Rizki Aftarianto Yang Peduli Literasi

JAKARTA – Hari Selasa, 18 September 2025, menjadi momen yang berkesan bagi anak-anak SD GMIT Nefo di Desa Tablolong, Kabupaten Kupang. Mereka tampak begitu antusias mengikuti kegiatan Sudut Baca Pesisir, sebuah program literasi kreatif yang digelar dalam rangka peresmian Desa Eco-Bahari Tablolong. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Tim Pengelola Unit Perpustakaan Politeknik KP Kupang dengan PLN Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (PLN UIP Nusra).

Acara tersebut dihadiri oleh Direktur Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang, Muhamad Ali Ulat, serta Manager PT PLN (Persero) UPP Nusra 3, Kasirun. Sebanyak 20 siswa bersama guru pendamping hadir mengikuti berbagai kegiatan menarik seperti bernyanyi, mendengarkan dongeng, dan lomba mewarnai dengan tema laut. Suasana keceriaan memenuhi area kegiatan, menghadirkan tawa dan semangat belajar yang menghangatkan suasana pesisir.

Sudut Baca Pesisir bukan hanya kegiatan rekreasi, tetapi juga upaya untuk menumbuhkan minat baca sejak usia dini. Melalui buku, cerita, dan aktivitas kreatif, anak-anak diajak untuk melihat dunia lebih luas serta memahami pentingnya ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.

Makna Literasi di Tengah Kehidupan Anak Pesisir

Bagi masyarakat Tablolong, laut bukan sekadar sumber penghidupan, tetapi juga bagian dari identitas dan budaya. Anak-anak tumbuh dengan kisah tentang kapal dan ombak, namun banyak dari mereka yang belum memiliki akses terhadap buku bacaan yang memadai. Padahal, menurut UNESCO, literasi merupakan kemampuan memahami, mengolah, dan menggunakan informasi untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang.

Hasil survei PISA 2022 menunjukkan bahwa tingkat literasi siswa Indonesia masih tertinggal dibandingkan rata-rata negara maju, sekitar tiga tahun pelajaran di belakang. Kondisi ini menggambarkan pentingnya upaya memperluas akses pendidikan dan bacaan di wilayah pesisir, agar tidak ada anak yang tertinggal dalam hal kemampuan membaca dan memahami informasi.

Sudut Baca Pesisir hadir untuk menjawab tantangan tersebut. Dengan konsep yang menyenangkan, anak-anak diajak mengenal literasi melalui permainan, kegiatan seni, dan cerita rakyat. Dari kegiatan sederhana ini, mereka belajar bahwa membaca bukan sekadar kewajiban, melainkan sarana untuk bermimpi dan berimajinasi.

Kegiatan ini juga menanamkan nilai-nilai positif seperti kerja sama, rasa ingin tahu, dan semangat belajar. Melalui interaksi dengan buku dan cerita, anak-anak mulai memahami pentingnya pengetahuan untuk masa depan mereka dan desa tempat mereka tinggal.

Belajar Literasi dari Alam dan Budaya Sekitar

Pendekatan literasi di Desa Tablolong disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari anak-anak pesisir. Cerita-cerita yang dibawakan dalam kegiatan Sudut Baca Pesisir berkaitan erat dengan laut, perahu, dan kehidupan masyarakat nelayan. Anak-anak tidak hanya membaca, tetapi juga diajak memahami isi cerita melalui aktivitas menggambar dan mewarnai.

Metode pembelajaran ini dikenal sebagai literasi kontekstual, yaitu menghubungkan proses belajar dengan pengalaman nyata. Dengan cara ini, anak-anak menjadi lebih mudah memahami isi bacaan karena berhubungan langsung dengan lingkungan mereka. Hal ini juga sejalan dengan arah Gerakan Literasi Nasional yang menekankan literasi sebagai sarana membangun karakter dan kecakapan hidup.

Selain menumbuhkan minat baca, kegiatan ini juga membantu anak-anak mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan imajinatif. Mereka belajar mengamati lingkungan sekitar, mengenali kekayaan laut, dan memahami pentingnya menjaga ekosistem pesisir. Melalui literasi, mereka tidak hanya belajar membaca kata, tetapi juga “membaca dunia” tempat mereka tinggal.

Inisiatif seperti ini menjadi contoh bagaimana pendidikan dapat hadir dengan cara yang menyenangkan dan relevan. Ketika literasi disampaikan lewat kegiatan kreatif, anak-anak tidak merasa sedang belajar, tetapi sedang berpetualang dalam dunia pengetahuan.

PLN UIP Nusra Hadirkan Energi Cahaya dan Pengetahuan di Pesisir

Kegiatan Sudut Baca Pesisir juga menjadi bagian dari acara peresmian Desa Eco-Bahari Tablolong dan serah terima bantuan program Electrifying Marine dari PLN UIP Nusra. Melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL), PLN berkomitmen menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya, termasuk di daerah pesisir.

PLN UIP Nusra memandang bahwa pembangunan tidak hanya sebatas menghadirkan infrastruktur listrik, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dengan adanya akses listrik, masyarakat memiliki kesempatan lebih luas untuk belajar dan mengembangkan diri.

Berdasarkan data World Bank tahun 2021, anak-anak yang tinggal di rumah dengan akses listrik memiliki waktu belajar 30 persen lebih banyak dibandingkan mereka yang belum menikmati penerangan. Hal ini menunjukkan bahwa listrik bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi juga sarana yang mempercepat kemajuan pendidikan dan literasi.

Dengan hadirnya listrik di Desa Tablolong, kini anak-anak dapat membaca di malam hari tanpa kesulitan. Lampu yang menyala di rumah-rumah warga menjadi simbol bahwa cahaya pengetahuan mulai menerangi masa depan generasi muda pesisir. PLN UIP Nusra berharap program seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk terus berinovasi dalam pengembangan literasi dan pendidikan.

Menyalakan Harapan Melalui Sudut Baca Pesisir

Ketua Tim Program Kerja Sudut Baca Pesisir, Ina Rostiani, S.I.Pus., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya menanamkan kecintaan terhadap membaca sejak dini. Ia berharap anak-anak dapat melihat bahwa membaca bukan beban, melainkan kegiatan yang membawa kebahagiaan dan membuka pintu masa depan.

Melalui kegiatan mendongeng, lomba mewarnai, dan berbagi cerita, anak-anak diajak menikmati proses belajar dengan cara yang menyenangkan. Mereka tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga pelaku yang berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan. Dari sinilah terbentuk kebiasaan positif yang dapat bertahan hingga dewasa.

Dari sebuah sudut baca kecil di tepi pantai, lahir semangat baru bagi anak-anak pesisir. Mereka kini memiliki ruang untuk bermimpi, berimajinasi, dan berani menatap masa depan dengan keyakinan. Sudut Baca Pesisir menjadi simbol bahwa setiap cahaya ilmu, sekecil apa pun, dapat menuntun langkah menuju perubahan yang lebih besar.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index