JAKARTA - Dalam semangat memperkuat transparansi publik dan meningkatkan literasi energi di masyarakat, PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) bersama Unit Pelaksana Proyek (UPP) Nusra 3 menggelar kegiatan kunjungan lapangan ke Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Timor-1 (2x50 MW) yang berlokasi di Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Rabu (22/10/2025).
Kegiatan ini dihadiri oleh puluhan wartawan dari berbagai media di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diajak langsung melihat proses operasional pembangkit terbesar di Sistem Timor. Melalui agenda ini, PLN berharap hubungan kemitraan dengan media semakin erat, sekaligus memperluas pemahaman publik mengenai pengelolaan proyek kelistrikan dan tanggung jawab sosial lingkungan yang dijalankan perusahaan.
Meningkatkan Transparansi Publik Melalui Kunjungan Lapangan
Sebanyak 30 jurnalis dari media cetak, online, dan elektronik hadir dalam kegiatan tersebut. Acara dibuka dengan sesi pemaparan oleh Asisten Manager PLTU Timor-1 PLN UPP Nusra 3, Asmar, yang menjelaskan operasional pembangkit serta berbagai upaya PLN dalam memastikan efisiensi dan keberlanjutan proyek.
Menurut Asmar, PLTU Timor-1 mulai beroperasi pada Juli 2025 dengan kapasitas total 100 megawatt (MW). Pembangkit ini dibangun untuk memperkuat pasokan listrik di Sistem Timor sekaligus menekan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) yang sebelumnya masih bergantung pada mesin diesel.
“Dengan lokasi yang dekat dengan pusat beban di Kota Kupang, potensi rugi energi dapat ditekan seminimal mungkin. Kini PLTU Timor-1 menjadi pembangkit terbesar di sistem kelistrikan Timor dan berfungsi sebagai base load yang mendukung stabilitas suplai listrik,” jelas Asmar.
Selain itu, PLN juga memastikan seluruh proses pengelolaan lingkungan berjalan sesuai regulasi. Air laut yang digunakan untuk pendinginan turbin, misalnya, terus diuji dan dipantau agar tetap berada dalam batas baku mutu yang telah ditetapkan.
Pemanfaatan Limbah FABA Untuk Mendorong Ekonomi Sirkular
Dalam kesempatan yang sama, Asmar menjelaskan bahwa Fly Ash Bottom Ash (FABA) dari PLTU Timor-1 telah dikelola secara optimal dan tidak termasuk dalam kategori limbah B3. Limbah tersebut bahkan dimanfaatkan kembali untuk berbagai kegiatan produktif masyarakat.
“FABA dapat digunakan sebagai bahan campuran dalam pembuatan batako, paving block, hingga bahan bangunan lainnya. Dengan begitu, hasil samping dari pembangkit ini tidak menjadi beban lingkungan, melainkan memberi nilai tambah bagi masyarakat sekitar,” terang Asmar.
Langkah ini sejalan dengan komitmen PLN dalam menjalankan program Circular Economy atau ekonomi sirkular, di mana setiap limbah dapat memiliki manfaat baru bagi lingkungan maupun sosial. Upaya tersebut turut mendorong penerapan pembangunan berkelanjutan di wilayah Nusa Tenggara Timur.
Keterlibatan Media Sebagai Mitra Strategis PLN UIP Nusra
Kegiatan kunjungan lapangan ini juga menjadi wujud keterbukaan informasi yang dijalankan oleh PLN UIP Nusra. Manager Perizinan dan Komunikasi PLN UIP Nusra, Bobby Robson Sitorus, menegaskan bahwa media memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi yang benar dan berimbang kepada publik.
“PLTU Timor-1 tidak hanya melayani kebutuhan listrik wilayah Kupang, tetapi juga mendukung pasokan hingga Atambua di Kabupaten Belu. Melalui kunjungan ini, kami ingin memastikan bahwa informasi yang disampaikan kepada masyarakat bersumber langsung dari lapangan,” ujar Bobby.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga bertujuan untuk memperlihatkan kepada jurnalis bagaimana proses kerja PLN dalam menjaga keandalan sistem dan tanggung jawab sosial di sekitar proyek.
Selain fokus pada penyediaan listrik, PLN UIP Nusra aktif menjalankan berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Program tersebut meliputi penanganan stunting, bantuan renovasi rumah ibadah, peningkatan akses jalan menuju lokasi proyek, hingga pengembangan Desa Eco-Bahari bersama Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang.
Apresiasi Media Terhadap Keterbukaan PLN
Para wartawan yang hadir mendapat kesempatan untuk meninjau langsung beberapa area penting di PLTU Timor-1, termasuk ruang kontrol utama dan area turbin. Dalam sesi diskusi, sejumlah jurnalis memberikan tanggapan positif atas keterbukaan PLN.
Roni Banase, wartawan dari Garda Indonesia, mengapresiasi langkah PLN yang memberikan akses bagi media untuk melihat langsung proses operasional pembangkit.
“Melalui kunjungan ini kami bisa memahami bagaimana sistem kerja pembangkit listrik berjalan. Informasi yang kami dapatkan menjadi lebih akurat dan terpercaya, karena berasal langsung dari sumbernya,” ujar Roni.
Ia juga menilai bahwa PLN telah menunjukkan komitmen nyata dalam menjalin komunikasi terbuka dengan insan media. Kegiatan seperti ini, menurutnya, penting untuk memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pembangunan infrastruktur kelistrikan di Nusa Tenggara Timur.
PLN UIP Nusra Perkuat Komitmen Pembangunan Energi Berkelanjutan
Pada kesempatan terpisah, General Manager PLN UIP Nusra, Rizki Aftarianto, menegaskan bahwa kolaborasi dengan media merupakan bagian dari strategi komunikasi korporat PLN dalam mendorong keterbukaan publik.
“Media adalah mitra strategis kami dalam membangun optimisme masyarakat terhadap proyek kelistrikan. Melalui transparansi informasi, PLN ingin menunjukkan bahwa setiap proyek energi selalu memperhatikan aspek sosial dan lingkungan,” jelas Rizki.
Rizki menambahkan bahwa keberadaan PLTU Timor-1 menjadi bukti konkret komitmen PLN dalam menyediakan energi yang andal, efisien, serta ramah lingkungan. Dengan kapasitas besar dan sistem operasi modern, pembangkit ini memperkuat keandalan sistem kelistrikan di Pulau Timor dan daerah sekitarnya.
Selain manfaat teknis, kehadiran PLTU juga berdampak positif terhadap perekonomian lokal. Proyek ini membuka lapangan kerja, meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar, serta memperkuat infrastruktur penunjang di wilayah Kupang Barat.
PLN UIP Nusra berkomitmen untuk terus melibatkan masyarakat, akademisi, dan media dalam setiap proses pembangunan proyek. Pendekatan kolaboratif ini diyakini dapat menciptakan sinergi yang berkelanjutan antara perusahaan, masyarakat, dan lingkungan.