Industri Baja

Industri Baja Nasional Tunjukkan Kinerja Gemilang di Tengah Tantangan Global

Industri Baja Nasional Tunjukkan Kinerja Gemilang di Tengah Tantangan Global
Industri Baja Nasional Tunjukkan Kinerja Gemilang di Tengah Tantangan Global

JAKARTA - Optimisme terhadap sektor baja nasional semakin menguat seiring meningkatnya kebutuhan dalam dan luar negeri. 

Permintaan yang terus bertambah menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan industri strategis ini. Momentum pertumbuhan tersebut turut memperkuat posisi Indonesia di pasar global.

Kinerja positif tersebut ditopang oleh konsumsi baja domestik yang meningkat dari 18,6 juta ton pada 2024 menjadi 19,3 juta ton pada 2025. 

Permintaan berasal dari sektor konstruksi yang terus berkembang, termasuk melalui Program Pembangunan 3 Juta Rumah, sektor manufaktur, serta sektor otomotif. Kenaikan konsumsi ini mencerminkan aktivitas ekonomi yang semakin ekspansif.

Hal ini diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menyampaikan sambutan melalui video dalam Musyawarah Nasional (MUNAS) ke-5 The Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) di Jakarta. 

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pertumbuhan industri baja menjadi bagian penting dari agenda pembangunan nasional. Pemerintah memandang sektor ini sebagai fondasi penguatan industri.

Dengan kapasitas produksi nasional sekitar 16-17 juta ton per tahun dan tingkat utilisasi yang masih di bawah 60-70%, industri baja nasional memiliki ruang yang besar untuk meningkatkan produksi dan memperkuat substitusi impor. Kondisi ini membuka peluang ekspansi kapasitas secara bertahap. Optimalisasi utilisasi menjadi langkah strategis berikutnya.

Ruang peningkatan produksi tersebut memberi harapan bagi pelaku industri. Dengan memaksimalkan kapasitas, ketergantungan pada produk impor dapat ditekan. Langkah ini sekaligus memperbaiki neraca perdagangan nasional.

Diversifikasi Ekspor dan Hilirisasi Berkelanjutan

Selain itu, hilirisasi yang dijalankan secara konsisten turut mendorong peningkatan nilai ekspor. Komoditas feronikel menjadi salah satu unggulan dengan nilai ekspor mencapai US$ 14,94 miliar pada periode Januari-November 2025. Capaian tersebut menunjukkan nilai tambah dari pengolahan di dalam negeri.

Pasar ekspor juga semakin terdiversifikasi, dengan Australia menjadi tujuan utama untuk produk barang dari besi dan baja senilai US$ 1,6 miliar, disusul Singapura dan Inggris, sementara RRT tetap menjadi mitra dagang utama dengan nilai ekspor lebih dari US$ 16 miliar. 

Diversifikasi ini memperluas akses pasar Indonesia. Ketergantungan pada satu negara tujuan pun berkurang.

"Hilirisasi yang dijalankan secara konsisten telah membuahkan hasil nyata. Kita tidak lagi bergantung pada satu pasar, dan baja Indonesia telah memiliki kualitas dengan standar global," tegas Airlangga. Pernyataan ini menegaskan keberhasilan strategi pengolahan dalam negeri. Standar mutu global menjadi kunci daya saing.

Keberhasilan hilirisasi juga memperkuat reputasi produk baja nasional. Kualitas yang diakui pasar internasional membuka peluang kontrak jangka panjang. Hal ini memberi stabilitas bagi pelaku usaha.

Investasi Meningkat dan Tantangan Global

Dari sisi investasi, sektor ini juga menunjukkan peningkatan signifikan. Investasi asing meningkat dua kali lipat dari US$ 8,05 miliar pada 2021 menjadi US$ 16,37 miliar pada 2025, dengan kontribusi terbesar berasal dari Hongkong, Singapura, dan Tiongkok. Lonjakan ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek industri baja Indonesia.

Namun demikian, tantangan global tetap perlu diantisipasi. Potensi kelebihan pasokan baja dunia diperkirakan mencapai 2,5 miliar metrik ton pada 2025. Selain itu, tren proteksionisme di berbagai negara turut menjadi perhatian.

Kondisi global tersebut menuntut strategi adaptif. Pemerintah dan pelaku industri harus menjaga keseimbangan antara produksi dan permintaan. Upaya mitigasi risiko menjadi bagian dari kebijakan berkelanjutan.

Transformasi Menuju Green Steel

Memasuki tahun 2026, isu dekarbonisasi dan implementasi Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) menjadi perhatian utama. Pemerintah mendorong transformasi menuju Green Steel melalui adopsi teknologi rendah karbon seperti Electric Arc Furnace (EAF). Teknologi ini mampu mereduksi emisi hingga 85 persen.

Langkah tersebut bertujuan memastikan daya saing baja Indonesia di pasar global yang semakin menuntut standar keberlanjutan. Transformasi ramah lingkungan menjadi kebutuhan mendesak. Industri baja dituntut beradaptasi dengan regulasi internasional.

Penggunaan EAF juga memberi efisiensi energi jangka panjang. Selain menekan emisi, teknologi ini meningkatkan citra industri nasional. Keberlanjutan menjadi pilar utama strategi masa depan.

Penguatan Perlindungan dan Strategi Ke Depan

Dalam menghadapi praktik perdagangan yang tidak adil, Pemerintah memperkuat instrumen perlindungan industri melalui Bea Masuk Anti-Dumping pada sejumlah produk baja. Pengetatan Lartas dan pengawasan impor dilakukan melalui kewajiban Persetujuan Impor dan Laporan Surveyor untuk 440 pos tarif besi baja. 

Selain itu, diberlakukan 23 Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib guna menjaga kualitas produk di pasar domestik.

Ke depan, Pemerintah akan terus mengoptimalkan sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Langkah ini bertujuan agar belanja Pemerintah menyerap baja lokal secara maksimal. Dukungan tersebut diharapkan memperkuat permintaan domestik.

Pemerintah juga mendorong keberlanjutan insentif Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) guna menjaga daya saing biaya produksi. Selain itu, pembangunan klaster industri baja terintegrasi dari hulu hingga hilir terus dipercepat. Dengan strategi komprehensif ini, industri baja nasional diharapkan semakin kokoh dan berdaya saing tinggi di pasar global.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index